Showing posts with label Wisata Bola. Show all posts
Showing posts with label Wisata Bola. Show all posts

#WisataBola Episode 3 - Yogyakarta


Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja...

Wisata Bola akhirnya berlanjut lagi... masuk ke episode 3, berkunjung ke kota salah satu klub pendiri PSSI yang lain: PSIM Jogja. Kebetulan sekali, ceritajersey tiba di Jogja beberapa hari sebelum PSIM bersiap memainkan partai final Liga 2 2024/2025 melawan Bhayangkara Presisi FC, yang saat itu belum diketahui dimana venuenya (akhirnya dimainkan di Stadion Manahan, Solo). Tempat pertama yang ceritajersey kunjungi, Wisma PSIM, masih tampak bertebaran karangan bunga ucapan selamat dari para suporter dan sponsor klub. PSIM Jogja akhirnya promosi ke kasta teratas Liga Indonesia setelah hampir 18 tahun bermain di level kedua. PSIM meraih tiket naik kelas ini setelah memuncaki klasemen Grup X babak 8 Besar Liga 2 2024/2025. Hal ini dipastikan via kemenangan tipis 2-1 Laskar Mataram atas PSPS Riau di laga terakhir grup.

Ceritajersey mengucapkan banyak terima kasih kepada @ayodukungpsim yang menemani berkeliling kota Jogja sepanjang sore hingga malam hari. Maklum, sesi Wisata Bola ini baru bisa ceritajersey lakukan di saat free time perjalanan dinas kantor. Di waktu yang cukup sempit sebelum kembali ke Jakarta ini ternyata ceritajersey bersama ayodukungpsim masih bisa visit ke beberapa tempat ikonik dan terkait dengan pesepakbolaan Jogjakarta. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Wisma PSIM, yang di dalamnya terletak juga Monumen PSSI.

Monumen PSSI, atau dulunya bernama Gedung Handeprojo (Soceiteit Handeprojo) ini merupakan gedung dimana federasi sepak bola Indonesia (PSSI) didirikan pada 19 April 1930. Di tempat ini berkumpul wakil dari VIJ (sekarang Persija Jakarta), BIVB, PSM (saat ini PSIM), VVB (saat ini Persis Solo), MVB (saat ini PSM Madiun), IVBM (saat ini PPSM Magelang), dan SIVB (saat ini Persebaya Surabaya) bersama Soeratin Sosrosoegondo mengadakan rapat dan membentuk organisasi PSSI. Barulah pada Kongres Pertama PSSI di Balai Persis Solo (baca Wisata Bola Episode 1), Soeratin dipilih menjadi ketua PSSI pertama. Area ini disebut juga sebagai Monumen PSSI karena adanya patung teratai dengan bola yang terletak di depan gedung. Seniman Jogja, Jayeng Asmoro, membuatnya pada tahun 1955.

Gedung Handeprojo sendiri saat ini kondisinya tidak cukup terawat dibandingkan Balai Persis Solo. Meskipun gedung ini telah direnovasi sejak 2009 bersama dengan kantor PSSI Asprov Jogja, masih tampak beberapa kaca pecah di beberapa tempat. Cukup disayangkan mengingat tempat ini menjadi salah satu tonggak awal sejarah sepak bola Indonesia.


Di area Wisma PSIM ini juga terdapat sekretariat Brajamusti. Brajamusti sendiri adalah akronim dari Brayat Jogja Mataram Utama Sejati. Sebelum ini, wadah untuk suporter PSIM disebut PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram). Dikutip dari detik.com, Brajamusti dibentuk pada 15 Februari 2003 di Jogja, dan awalnya merupakan gabungan dari sejumlah laskar seperti Hooligans, Mgr, Cobra Mataram, Dahkota, Baju Barat, Pathuk squad, Cidelaras, dan lain-lain. Total ada 21 kelompok suporter. Brajamusti bersama The Maident saat ini merupakan dua basis suporter terbesar dari PSIM Jogja.

Tak lengkap kalau kita berkunjung ke Wisma PSIM tanpa mampir ke PSIM Store. Official store dari PSIM Jogja ini berlokasi di sebelah Sekretariat Brajamusti. 2019 lalu ceritajersey juga pernah mampir ke sini, tepatnya saat PSIM merayakan anniversary mereka yang ke-90. Kalian bisa baca #StoreVisitnya di link berikut. Tentu saja setelah 5 tahun berlalu, layout store mereka cukup berubah dan menjadi lebih baik. Deretan produk anyar ditampilkan, termasuk jersey tanding & latihan yang PSIM gunakan musim ini. Selain produk dari Apex, tshirt & jaket kolaborasi mereka dengan Russ.co juga menjadi produk yang cukup laris di store.

Di dalam komplek Wisma PSIM ini juga terdapat mess pemain serta kantor dari Asosiasi PSSI Kota Yogyakarta. Signature "PSIM Jogja" yang khas ini terletak di depan kantor tersebut.

Di dalam Monumen PSSI, terdapat relief yang menggambarkan 5 teknik dasar bermain bola: shooting, dribbling, heading, passing, & goal keeping. Terhitung sejak 2009 melalui SK Walikota no. 798/KEP/2009, gedung ini telah tercatat sebagai warisan budaya dan disebut Gedhung Bola PSIM.

Bergeser dari area Wisma PSIM, kita jalan kaki ke stadion Mandala Krida, yang terletak tepat di sebelahnya, masih di kawasan Baciro. Stadion ini menjadi markas PSIM Jogja selama partai kandang di gelaran Liga 2 2024/2025. Stadion Mandala Krida merupakan fasilitas kegiatan keolahragaan milik Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikelola oleh Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Dinas Dikpora DIY. Selain sepak bola, beberapa event olahraga seperti sepatu roda, balap motor, atletik, dan kegiatan non olahraga seperti pameran, bazar, pentas musik dan upacara juga diselenggerakan di komplek stadion ini. Stadion ini dibangun mulai tahun 1977 dan selesai di tahun 1984. Dalam sejarahnya, Mandala Krida juga pernah menjadi tuan rumah PON X Jogjakarta. Stadion ini mengalami renovasi besar dari tahun 2012 hingga akhir 2018, menyebabkan PSIM harus berpindah-pindah homebase selama kompetisi. Sebelum berkandang di Mandala Krida, PSIM Jogja menempati Stadion Kridosono yang terletak di area Kotabaru.


Stadion Kridosono sendiri saat ini sudah tidak digunakan lagi sebagai kandang PSIM Jogja. Djokjasche Voetbandbond menginisiasi pembangunan stadion ini pada tahun 1937 lalu. Kasultanan Ngayogyakarta membantu pendanaannya sebesar 9.000 gulden. Stadion Bijleveld menjadi nama awal stadion ini, diambil dari nama Gubernur Belanda yang bertugas di Jogja, Johannes Bijleveld, yang menjabat dari 1934 hingga 1939. Stadion ini memiliki tribun dengan 600 kursi yang dilengkapi dengan atap, ruang ganti pemain, serta toilet. Saat diresmikan pada 1938 lalu oleh Sultan Hamengku Buwono VIII, klub sepakbola Jogja bersama dengan Surakarta mengadakan pertandingan persahabatan untuk pembukaan. Nama stadion berubah menjadi Kridosono saat dilakukan pembukaan kembali di tahun 1950. Nama ini berarti "kepakan sayap". Kridosono memiliki makna sebagai simbol dari semangat, kelincahan, ketangguhan, dan kekuatan. Nama ini juga menjadi harapan bahwa Stadion Kridosono dapat menjadi tempat dimana atlet dan tim olahraga menunjukkan dinamika, perjuangan, dan kegigihan untuk mencapai prestasi. Saat ini Stadion Kridosono banyak digunakan untuk SSB lokal berlatih sepak bola di sore hari.




Satu tempat ikonik lain yang tentu erat dengan PSIM Jogja adalah Tugu Ngayogyakarta atau disebut juga Tugu Pal Putih. Tugu ini dimaknai secara filosofis sebagai pusat orientasi manusia dalam laku sembah dan aktivitas sehari-hari, dengan senantiasa mengingat kebesaran Tuhan sebagai "Sangkan Paraning Dumadi". Tugu Ngayogyakarta ini dibangun pada 1887-1889 sebagai pengganti Tugu Golong Giling yang sebelumnya ada sejak 1755 dan hancur akibat gempa bumi pada tahun 1867. Tugu Ngayogyakarta menjadi salah satu elemen ikonik di logo PSIM Jogja guna menunjukkan identitas dari mana klub berasal. Area sekitar tugu ini juga selalu menjadi pusat klub & suporter untuk merayakan prestasinya, termasuk keberhasilan PSIM saat meraih tiket promosi & menjuarai Liga 2 2024/2025 lalu.

Niat hati berkunjung juga ke Stadion Maguwoharjo & Stadion Sultan Agung Bantul, namun karena hari mulai gelap, @ceritajersey & @ayodukungpsim menuju area Ngaglik, Sleman, untuk menyambangi Omah PSS. Kantor dari klub PSS Sleman ini baru diresmikan pada Desember 2020 lalu oleh direktur utama klub saat itu, Marco Gracia Paulo. Meskipun namanya kantor, tapi bangunannya berkonsep Jawa, dengan adanya pendopo atau rumah Joglo di bagian tengah. Biasanya konferensi pers terkait aktivitas klub dilakukan di area ini. Selain kantor, di area Omah PSS ini juga terdapat PSS Store.

Setelah renovasi, PSS Store tampak lebih cacthy tampilannya & memiliki jam buka lebih banyak, termasuk di weekend (sebelumnya toko tutup di Sabtu-Minggu). Rangkaian produk baru, termasuk jersey PSS Sleman produksi Scorelab, juga banyak tersedia di sini. Jangan tanya jersey DRX yang digunakan klub pada awal musim, tentu sudah tidak adaa :"". Selain jersey anyar, yang paling dicari pengunjung tentu produk kolaborasi mereka dengan CRSL. Brand lokal asal Sleman yang berdiri sejak tahun 2017 ini banyak dikenal  melalui 5 karakter utamanya, Choco, Popo, Pigko, Odin, dan Chilo. Dikutip dari laman resmi klub, project ini diharapkan dapat menemani suporter melalui dunia fashion yang merepresentasikan identitas dan kebanggaan Sleman. Namun sayangnya, jersey PSS x CRSL yang menjadi wishlist ceritajersey ternyata memang sudah sold out. Stiker dan gantungan kunci lucu dari CRSL akhirnya menjadi souvenir penghibur dari kunjungan ke PSS Store ini.

Destinasi terakhir yang dikunjungi adalah store Almer Apparel yang terletak di Umbulharjo, Jogja. Sempat tutup, namun ternyata store kembali buka setelah para karyawan selesai melaksanakan shalat Isya. Apparel ini merupakan partner dari Persiba Bantul di PNM Liga 3 2024/2025 ini. Rangkaian produk klub, dari jersey tanding, polo, tshirt, jaket, hingga perlengkapan latihan & prematch menjadi item apik yang layak dikoleksi. Selain menjual berbagai macam merchandise Persiba Bantul, Almer juga menyediakan berbagai macam produk retail seperti teamwear dan layanan jersey custom. Sebelum dengan Persiba Bantul, apparel ini juga pernah bekerja sama dengan UNY, Giga FC Kota Metro, dan yang sampai level internasional: United City FC, klub sepak bola dari Liga Filipina.

Karena jersey sudah beli online sebelumnya untuk jersey pre season, jaket, hingga jersey tanding klub, di kunjungan kali ini ceritajersey beli official polo shirt dari Persiba Bantul. Lumayan bisa dipakai untuk kerja atau main golf dengan tetap menunjukkan identitas lokal. 😁

Wisata Bola setengah hari ini memang belum bisa mencakup banyak area ikonik terkait sepak bola di Jogja. Masih ada beberapa tempat yang mestinya bisa dikunjungi seperti Lapangan Karang, Lapangan Minggiran, Alun-alun Utara Jogja, hingga Stadion Sultan Agung dan Maguwoharjo. Semoga bisa ke sana di lain waktu ya. Yang penting lagi, selamat untuk PSIM Jogja yang telah menjuarai Liga 2 2024/2025 dan meraih tiket promosi ke Liga 1 2025/2026. Semoga sukses untuk klub ke depannya & terima kasih juga untuk mas Andreas @ayodukungpsim yang telah menemani perjalanan ceritajersey selama di Jogja. Mantabbb mas!

Next, kemana lagi kita?


Share:

#WisataBola Episode 2 - Bandung


Setelah di Episode 1 kita berkeliling kota Solo, destinasi kita berikutnya ke arah Barat, ke kota Kembang, sekali lagi ke tempat salah satu pendiri federasi sepak bola Indonesia berada. Bandung, yang kebetulan baru saja klub kebanggaannya, Persib, menjuarai Liga 1 2023/2024, selesai melakukan pawai kemenangan di sepanjang jalan sana. Berkeliling untuk wisata bola di sini, sepertinya pas kalau kita mulai "kick off"nya dari "Patung Persib". Ikon karya Nyoman Nuarta ini memiliki nama resmi "Monumen Sepak Bola", digagas oleh Walikota Bandung periode 1983-1993, Ateng Wahyudi. Monumen Sepak Bola diresmikan pada 8 Mei 1990 dan menggambarkan semangat sepak bola Bandung yang di masa itu sedang bergelora. Uniknya, banyak yang beranggapan patung ini merupakan sosok Ajat Sudrajat atau Robby Darwis walau sebenarnya bukan siapa-siapa.

Stadion Persib tampak depan

Stadion Sidolig, yang merupakan singkatan dari Sport In de Open Lucht Is Gezond merupakan stadion lawas yang awalnya menjadi homebase dari VBBO (Voetbal Bond Bandoeng & Omstraken), klub bola bentukan Belanda di Bandung. Di awal berdirinya, Persib banyak menggunakan lapangan lain seperti Lapangan Cilentah, Lapangan Ciroyom, dan Lapangan Tegallega untuk berlatih dan bertanding. Seiring waktu, setelah VBBO bubar, klub-klub seperti UNI & SIDOLIG bergabung dengan Persib, termasuk tiga lapangan VBBO diserahkan ke Persib seperti Lapangan UNI, Lapangan Sidolig, dan Lapangan SPARTA (yang di kemudian hari menjadi Stadion Siliwangi). Lapangan Sidolig sendiri bertransformasi menjadi Stadion Persib, sampai tulisan tersebut pun terpasang di bagian depan stadion.

Suasana para penjual atribut Persib Bandung di depan stadion

Di dalam area stadion yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Kacapiring, kota Bandung ini terdapat beberapa penjual makanan & atribut Persib Bandung. Selain itu, mess Persib pun berada di dalam Stadion Sidolig ini. Stadion Sidolig selesai direnovasi pada Juni 2023 lalu dalam rangka persiapan menuju Piala Dunia U-20 yang rencana awalnya akan dilaksanakan di Indonesia.

Aktivitas sepak bola di dalam Stadion Persib 

Taman Bobotoh yang saat ini sepi

Tempat berikutnya yang kita kunjungi berada di Jalan Cilantah: Taman Bobotoh. Taman ini diresmikan tahun 2017 lalu oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung saat itu. Taman Bobotoh sebenarnya dibangun berdekatan dengan sekretariat pertama Viking Bandung. Tempat ini menjadi ajang berkumpulnya para Bobotoh yang mengantre untuk membeli tiket di sekretariat. Sayangnya setelah dilakukan pemugaran taman, keramaian yang ada berangsur-angsur menurun.

Sekretariat pertama Viking Persib Club

Di depan Taman Bobotoh, di Jalan Gurame nomor 2, terdapat bangunan dua lantai yang dulunya merupakan Sekretariat Viking Persib Club. Infonya, biaya pembangunan sekretariat ini merupakan patungan dari para anggota Viking sendiri. Di tahun 2019, Viking Persib Club berpindah sekretariat ke Jl. Palasari no. 2, Bandung.

Sekretariat Persib Bandung yang saat ini telah menjadi Gedung Asosiasi PSSI Kota Bandung

Di depan sekretariat pertama Viking Persib Club terdapat Gedung Asosiasi PSSI Kota Bandung. Sebelum berpindah ke Jl. Sulanjana, Persib menempati gedung ini sejak tahun 1950an. Walikota Bandung di masa itu, R. Enoch, membantu pembangunan gedung ini & berkat usaha dari Ketua Persib, R. Soendoro, Persib Bandung akhirnya berhasil memiliki kantor sekretariat tetap di Jl. Gurame. Sayangnya gedung yang saat ini digunakan oleh PSSI Kota Bandung ini tampak tidak rapi, daun-daun menutupi tulisan "Persib" yang terletak di sisi atas, logo PSSI di pagar depan copot, dan masih ada bekas coretan di sekitarnya.


Bagian dalam Gedung Asosiasi PSSI Kota Bandung

Stadion Siliwangi yang identik dengan simbol kepala maung di bagian pintu masuk

Stadion kedua yang didatangi setelah Sidolig adalah Stadion Siliwangi, yang dulunya merupakan Lapangan SPARTA. Tahun 1954, atau 9 tahun setelah Indonesia merdeka, lapangan  tersebut kemudian dikelola oleh Kodam III/Siliwangi dan diperuntukkan untuk kegiatan internal. Stadion Siliwangi tersebut didirikan di atasnya dengan anggaran sekitar 6 juta Rupiah (tahun 1954). Walaupun awalnya ditujukan untuk internal, karena belum adanya stadion yang representatif di Bandung untuk menggelar kegiatan olahraga dengan skala besar, jadilah Persib berkandang di stadion berkapasitas awal 28.000 penonton ini. Dikutip dari Wikipedia, Stadion Siliwangi diresmikan pada 1 Januari 1956 dan mempertandingkan Persib Bandung & Persija Jakarta sebagai hiburan. Di tahun 1961 pun Stadion Siliwangi menjadi venue Pekan Olahraga (PON V) dan dibuka oleh Presiden Soekarno. Persib pindah ke Stadion Jalak Harupat setelah PT. Liga Indonesia memutuskan Stadion Siliwangi pada tahun 2013 kurang layak untuk menggelar pertandingan Liga Super. 

Aktivitas masyarakat di sore hari di Stadion Siliwangi

Lapangan & papan skor ikonik Stadion Siliwangi


Etalase jersey Persib musim 2023/2024 dan Prawira Hanum Bandung 2023

Dari Stadion Siliwangi, sebelum kita kembali ke Jakarta, mampir dulu beli oleh-oleh khas Bandung di Graha Persib. Di etalase depan, terpampang deretan jersey, termasuk dari Prawira Hanum Bandung yang di Indonesia Basketball 2023 lalu meraih juara setelah mengalahkan Pelita Jaya Bakrie. Suasana store sendiri cukup ramai, banyak orang mencari pernak-pernik Persib Bandung terutama yang berkaitan dengan raihan juara lalu.

Deretan manekin dengan seragam Persib Bandung 2023/2024

Piala & medali yang diraih Persib Bandung usai meraih gelar juara Liga Indonesia 2023/2024 

Kembali ke masa kini, Persib telah bertransformasi menjadi klub apik, memiliki Graha Persib yang megah: mencakup office, store, hingga kafe untuk para Bobotoh. Sederet piala yang telah diraih Persib, termasuk juara Liga Indonesia 2023/2024 telah terpajang di dalamnya. Kunjungan ceritajersey lalu pun disambut ludesnya jersey home biru mereka, #jerseyjawara yang mengantar Persib meraih bintang ke-3 di logonya. Jalan-jalan kali ini ditutup dengan belanja offical merch mereka, sebuah kaos bertuliskan "CHAMP1ONS", pin Persib, dan pemasangan nameset Klok untuk seragam home milik ceritajersey. Next, kemana lagi kita?

Share:

#WisataBola Episode 1 - Solo

Setelah StoreVisit & MatchdayJournal, satu lagi aktivitas yang jadi rubrik baru di @ceritajersey: #WisataBola. Edisi perdana ini kita coba jalan-jalan di Solo, kebetulan momennya pas dengan libur panjang beberapa hari lalu. Solo sendiri merupakan homebase salah satu klub bersejarah pendiri PSSI, Persis Solo, jadi cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk "napak tilas" jejak sejarah klub di sini. Yang pertama tentu Balai Persis. Bangunan yang terletak di Jl. Gajah Mada nomor 73 ini sempat menjadi kantor Persis dari 1960 hingga 2016. Beragam trofi Persis saat masih bernama VVB tersimpan rapi di sini. Di area bangunan ini juga terdapat Patung Soeratin yang diresmikan pada HUT PSSI ke-30. Patung ini juga telah ditetapkan oleh pemerintah setempat menjadi cagar budaya di Solo. 

Dari sini kita lanjut ke apparel Persis Solo era 2011/2012, Bolamania, yang terletak di Jl. Pangeran Wijil no. 12. Well, sayangnya karena ini hari Minggu, tokonya tutup 🥲. Masih tampak di etalase mereka poster duka cita untuk kepergian pemain Persis saat itu, Diego Mendieta. 

Tujuan berikutnya, kita mampir ke Stadion Sriwedari, tempat bersejarah dimana PON 1 (1948) diselenggarakan. Pembukaan stadion ini di 1933 mempertandingkan Persis Solo & PSIM Jogja. Dua tahun setelah Sriwedari diresmikan, Persis Solo pun meraih gelar perdana mereka di kompetisi Stedenwedstrijden. Di depan stadion Sriwedari, terdapat patung pemain Persis Solo bernomor 16 menggunakan jersey putih. Hal ini pulalah yang menginspirasi desain jersey centenary Persis Solo tahun lalu, dimana Persis Solo menggunakan warna putih sebagai jersey utama di awal pembentukannya.

Sebelum ke Manahan, kita mampir ke Tugu Lilin, tugu yang didirikan dalam rangka mengenang 25 tahun berdirinya Boedi Utomo saat itu (1908-1933). Sejak tahun 1953, tugu ini menjadi bagian dari lambang pemkot Surakarta hingga saat ini. Tugu ini pula yang menjadi unsur utama dari logo Persis Solo, dikelilingi 15 bintang yang merupakan representasi dari 15 klub internal Persis.

Terakhir, kita main ke Stadion Manahan, kandang terkini dari Persis Solo yang baru saja digunakan untuk perhelatan Piala Dunia U-17 beberapa waktu lalu. Berdiri sejak 1998, beberapa klub pernah menjadikan Manahan sebagai homebase, seperti Pelita Solo, Persijatim Solo FC, dan tentu Persis Solo yang berhomebase di sini sejak 2006. Bhayangkara sempat akan pindah homebase ke Solo di tahun 2020 lalu, sebelum Persis memastikan promosi ke Liga 1 setahun berikutnya.

Mengakhiri #WisataBola di Solo, tidak lupa kita belanja kecil-kecilan di Persis Store, mumpung lagi banyak produk baru menyambut imlek. 
Jadi, kota mana yang akan jadi tujuan wisata kita berikutnya? Boleh saran di kolom komentar yaa 🥰



Share:
@ceritajersey 2020. Powered by Blogger.

Search The Jersey

Jersey Archive

Labels